Catatan Perjalanan Kemah Diklat Akhir
Nama : Akfin Lukman , kelompok 1 - (-) Hari 1 – Persiapan Peking Kelompok, Hari Kamis, Pukul 10.00 WIB Persiapan kegiatan Peking kelompok kami dilaksanakan pada hari Kamis, dimulai pukul 10.00 pagi. Kelompok saya terdiri dari 6 anggota, yang terdiri atas 4 laki-laki dan 2 perempuan. Sejak pagi, anggota kelompok mulai datang satu per satu hingga hampir lengkap. Barang-barang yang wajib dibawa dalam kegiatan ini meliputi: pakaian ganti, alat tulis, survival kit, sleeping bag (SB), golok , spirtus 2 botol serta air mineral sebanyak 3 botol ukuran 1,5 liter per orang. Persiapan awal dimulai dengan membuat kompor lapangan dari kaleng bekas, serta tinder buatan yang terbuat dari kapas dan lilin. Korlap (kompor lapangan) yang dibutuhkan untuk kegiatan kemah besok minimal sebanyak 6 buah, dan tinder disiapkan sebanyak-banyaknya. Setelah pembuatan korlap dan tinder selesai, kami melanjutkan dengan menyusun logistik yang akan dibawa. Hal pertama yang menjadi perhatian kelompok adalah bagaimana membagi perlengkapan logistik secara merata, terutama agar tas carrier perempuan tidak terlalu berat. Kami mulai membongkar seluruh isi carrier kelompok, lalu menyusunnya kembali. Untuk tas carrier laki-laki, sleeping bag diletakkan di bagian paling bawah, diikuti dengan air minum dan barang bawaan pribadi. Setelah itu, kami menambahkan perlengkapan kelompok seperti korlap, logistik makanan kelompok, serta peralatan masak yang sebelumnya telah dikumpulkan menjadi satu, flysheet dan nesting masakan. Saya pribadi mendapatkan tanggung jawab untuk membawa logistik makanan kelompok serta 4 botol air minum. Sementara itu, untuk anggota perempuan, masing-masing hanya membawa 2 botol air minum ,tinder dan spirtus agar beban tidak terlalu berat. Sebelum semua logistik dimasukkan ke dalam tas, saya juga mengingatkan seluruh anggota kelompok agar menyimpan pakaian ganti mereka di dalam kantong plastik or kresek, untuk menghindari kemungkinan terkena air di perjalanan dan kegiatan berlangsung . Seluruh persiapan kelompok diselesaikan pada hari Jumat sebelum pukul 10.00 WIB, karena masih ada beberapa peralatan yang belum dibawa or dibeli pada hari sebelumnya.
Hari 1 – Keberangkatan, Hari Pertama di Lokasi, Materi Malam hari Sekitar pukul 08.00–09.00 WIB, teman-teman sudah mulai berdatangan ke kampus dan langsung menuju ruang sekretariat Cakra untuk memastikan barang bawaan masing-masing sudah lengkap. Kami melakukan pengecekan ulang dan menandai peralatan yang dibawa pada daftar yang telah disiapkan oleh senior. Proses ini dilakukan satu per satu, meskipun ada beberapa barang kecil yang ternyata tertinggal. Pada pukul 10.00 WIB, seluruh peserta satu
angkatan dikumpulkan dan dibariskan oleh senior untuk pengecekan kehadiran. Dari kelompok saya, masih ada satu teman perempuan yang belum hadir dikarenakan masih di Puskesmas untuk membuat surat sehaat. Kami menunggu sekitar 10–15 menit, namun yang bersangkutan belum juga tiba, sehingga acara tetap dilanjutkan sesuai dengan jadwal yang telah disusun. Barisan sebelumnya disiapkan senior kemudian dibubarkan dan kami diarahkan menuju area terbuka untuk membentuk barisan kembali. Setelah barisan terbentuk dengan rapi, senior mengambil alih untuk persiapan upacara pembukaan. Sebelum upacara dimulai, setiap kelompok diminta untuk memilih satu orang sebagai ketua kelompok, dan saya terpilih menjadi ketua kelompok 1 . Setelah pemilihan selesai, kami bersiap dan melaksanakan upacara pembukaan yang berlangsung secara khidmat selama kurang lebih 30 menit. Usai upacara, kami kembali dikumpulkan untuk mendapatkan arahan mengenai peraturan serta konsekuensi yang berlaku selama kegiatan kemah berlangsung. Dari pemberitahuan senior pemberangkatan kemah dimulai jam 13.30 menuju lokasi kemah di Desa Segulung, Kabupaten Madiun. Setelah sesi pengarahan selama 15 menit selesai, seluruh peserta dibubarkan dan diberikan waktu bebas untuk berfoto dan mengabadikan momen bersama. Setelah itu, kami diarahkan kembali to tempat penyimpanan carrier untuk melakukan pengecekan terakhir atas perlengkapan yang akan dibawa. Teman teman laki-laki kemudian melaksanakan salat Jumat, sedangkan perempuan menyiapkan barang dan logistik untuk keberangkatan. Pada pukul 13.00 WIB, semua peserta berkumpul kembali dan mulai menyiapkan perlengkapan serta pasangan boncengan sepeda motor. Diupayakan agar peserta perempuan dibonceng oleh peserta laki- laki. Pukul 13.30 WIB, kami semua berangkat dari kampus menuju lokasi perkemahan. Kami tiba di lokasi kemah menjelang sore hari. Setibanya di sana, kami segera menurunkan carrier dari motor dan diarahkan ke aula yang telah disiapkan untuk menaruh cerier . Untuk sepeda motor dititipkan di rumah warga sekitar yang terletak di bawah area perkemahan. Teman teman laki- laki mengantar motor ke lokasi penitipan dan kemudian kembali ke perkemahan dengan bantuan senior. Setelah semua selesai, kami kembali dibariskan by senior di area lapangan voli untuk mengikuti materi pertama, yaitu pengecekan barang bawaan. Satu per satu barang dikeluarkan dari carrier and dicocokkan dengan daftar yang telah dibawa. Di tengah sesi, hujan mulai turun, sehingga kami diarahkan untuk segera mengemasi barang dan pindah ke aula untuk melanjutkan pengecekan. Beberapa peserta diketahui tidak membawa perlengkapan secara lengkap. Setelah pengecekan selesai, kami kembali dibariskan dan diberikan instruksi untuk segera mendirikan tenda di lokasi yang sudah disiapkan di sebelah lapangan voli.Saya mulai mengarahkan anggota kelompok untuk mengelompokkan carrier, mengambil perlengkapan seperti golok, sarung tangan, flysheet, dan tali perusik untuk membangun tenda. Kami langsung bergerak dan membagi tugas: ada yang membersihkan rumput, menata bebatuan, menggali lubang untuk api unggun, serta mengumpulkan kayu bawaan . Menjelang malam, tenda berhasil didirikan, dan persiapan api unggun pun selesai. Api unggun pun dinyalakan. Setelah itu, kami mulai memasukkan carrier ke dalam tenda dan menata matras
untuk beristirahat. Kami kemudian melaksanakan salat dan makan malam bersama di depan api unggun. Sekitar pukul 20.00 WIB, kami dikumpulkan kembali di lapangan voli untuk mengikuti materi malam, yaitu Kompas Malam. Kami dibagi per kelompok dan mendapat penjelasan dari senior mengenai arah mata angin dengan keadaan malam hari dan cara penggunaannya. Urutan, kami langsung mempraktekkan materi tersebut. Senior menyebutkan beberapa derajat arah, dan kami menyusunnya menjadi pola yang telah disimulasikan. Dari kegiatan ini, kami belajar banyak hal, antara lain: pentingnya fokus, konsistensi, menghitung langkah untuk mengukur jarak, serta meningkatkan kekompakan dan koordinasi dalam kelompok. Setelah materi selesai, kami diarahkan kembali ke tenda untuk beristirahat dengan satu syarat: api unggun harus tetap menyala semalaman dan dijaga secara bergantian oleh anggota kelompok.
Hari 2 – Materi , Perjalanan dan Pelatihan Mental Hari kedua merupakan hari yang cukup menguras tenaga. Setelah terdengar azan Subuh, saya masih merasa cukup lelah karena malam sebelumnya saya bertugas menjaga shift awal hingga tengah malam. Namun, kegiatan tetap berjalan. Seluruh peserta satu angkatan memulai hari dengan melaksanakan salat Subuh berjemaah. Setelah itu, setiap kelompok mulai menyiapkan sarapan secara bergiliran. Sebagian anggota memasak, dan sebagian lainnya membereskan carrier agar rapi seperti semula. Setelah selesai makan, saya bergantian dengan teman lain untuk merapikan carrier hingga semua siap. Setelah semua kegiatan pagi selesai, saya mengarahkan seluruh peserta untuk segera membongkar tenda dan memastikan area camp bersih dari sampah dan sisa makanan. Kami membagi tugas secara bergiliran hingga semua area benar-benar bersih. Saya lalu menginstruksikan agar seluruh perlengkapan carrier dan peralatan lainnya dikumpulkan di lapangan voli dan membentuk barisan per kelompok. Setelah semua siap, kami beristirahat sekitar 30 menit sambil menunggu arahan dari senior. Setelah waktu istirahat selesai, para senior datang dan mengumpulkan kami untuk melakukan senam pagi. Usai senam, kami diberi arahan untuk berganti pakaian: bebas di bagian atas dan
tetap mengenakan celana PDH. Setelah berganti pakaian, kami kembali dibariskan untuk mulai menghafalkan yel-yel Cakra Manggala. Selanjutnya, kami dibentuk dalam satu banjar ke belakang untuk mengikuti materi penjelajahan hutan. Dalam perjalanan, yel-yel juga terus kami nyanyikan. Di sepanjang perjalanan, kami diajarkan untuk saling membantu dan mengendalikan ego. Di tengah perjalanan, kami berhenti sejenak untuk istirahat dan menerima materi tentang cara membidik kompas dan menentukan titik lokasi saat itu. Setelah titik lokasi berhasil ditemukan (kami berada di Desa Doho), kami melanjutkan perjalanan menyusuri hutan jati dengan jalur yang naik turun dan berkelok-kelok. Selama perjalanan, saya juga mendapat informasi bahwa tinder alami bisa berasal dari pelepah pohon jati. Maka dari itu, beberapa teman mengumpulkan pelepah tersebut untuk keperluan api unggun nanti. Perjalanan dilanjutkan dan kami kembali istirahat sejenak sambil membagi bekal makanan ringan yang dibawa secara pribadi. Setelah istirahat, kami kembali melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan, kami dihentikan untuk mengambil tali webbing dan membuat ikatan dada (chest harness). Setelah itu, kami kembali istirahat untuk makan siang. Di kelompok saya, memasak mi instan dan makanan ringan guna mengisi kembali energi. Setelah 30 menit istirahat dan makan, kami beres-beres dan bersiap mengikuti kegiatan berikutnya: penyusuran sungai, didampingi oleh para demisioner. Untuk peserta perempuan yang sedang menstruasi, mereka dipersilakan berpindah barisan. Di kelompok saya, seluruh perempuan mundur, sehingga hanya tersisa satu perempuan di kelompok sebelah. Saya mengatur formasi barisan dengan saya di depan, diikuti oleh perempuan, lalu teman laki-laki yang berbadan besar, dan seterusnya. Saat menyusuri sungai, saya cukup terkejut dengan jalurnya. Banyak bebatuan licin dan tanah yang dalam, sehingga air bisa mencapai pinggang saya (yang cukup tinggi). Di salah satu titik, kami harus saling membantu mengangkat carrier ke pundak teman karena tingginya air mencapai dada beberapa peserta. Semua peserta basah kuyup. Namun, kami tetap bekerja sama hingga semua berhasil melewati jalur tersebut. Di tengah perjalanan, kami juga digigit pacet di kaki. Lalu kami diarahkan untuk mengganti posisi tali webbing dari dada ke pinggul (menjadi seat harness). Kami lalu melihat simulasi dari demisioner tentang cara memanjat tebing yang dialiri air (mirip air terjun) menggunakan tali yang ditarik dari atas sambil membawa carrier . Beberapa peserta sempat ragu dan mentalnya terguncang, tidak ingin naik. Saya berusaha meyakinkan mereka bahwa satu-satunya jalan hanyalah naik ke atas. Salah satu teman yang berbadan besar juga mengalami kesulitan dan tidak ingin naik. Saya menyemangatinya dan memberitahu bahwa ia akan dibantu oleh teman-teman. Dengan kerja sama, ia akhirnya berhasil naik: kaki kanan menapak batu, kaki kiri saya bantu tempatkan di paha saya, dan teman-teman lainnya mendorong dari belakang sambil memberi semangat dari atas. Itu adalah momen yang paling membekas. Akhirnya, satu per satu peserta berhasil naik dan perjalanan dilanjutkan. Kami tetap menyanyikan yel-yel sambil berjalan. Di pertengahan jalan, kami menemui rintangan air terjun berbatu lagi, namun lebih mudah karena tali dari atas bisa digunakan untuk menarik carrier
terlebih dahulu sebelum peserta naik. Kami kembali menolong satu sama lain dan melanjutkan perjalanan hingga menemukan batu besar yang harus dilewati menggunakan tali. Ini juga tidak terlalu sulit. Setelah semua naik, kami beristirahat sebentar karena tenaga benar-benar turkuras. Kemudian kami kembali dibariskan untuk melanjutkan perjalanan hingga sampai di lokasi akhir. Tak disangka, akhir dari susur sungai membawa kami ke tempat terbuka, di mana tiga teman perempuan kami sudah menunggu, menandakan bahwa kami akan istirahat. Kami diminta mengganti pakaian basah dengan baju kering dan celana training, lalu beristirahat selama 45 menit. Setelah itu, kami kembali membentuk barisan untuk menerima materi tentang pembuatan bivak. Kami diarahkan ke tempat yang lebih luas untuk melihat demonstrasi membuat bivak dengan tiga pasak agar bisa berdiri dengan stabil. Setelah materi bivak selesai, kami juga menerima materi tentang penggunaan pemantik api (fire starter) dan tinder hingga berhasil menyalakan api. Semua materi hari itu selesai menjelang sore. Kami kemudian dibariskan kembali dan diarahkan ke area terbuka untuk beristirahat, membangun tenda, dan nyalakan api unggun. Sebelum matahari terbenam, tenda dan api unggun sudah siap. Saya sendiri memilih langsung beristirahat agar bisa menjaga shift malam, sementara beberapa teman saya saya tugaskan untuk memasak makan malam. Di tengah malam, saya dibangunkan untuk makan malam dan menikmati kopi sambil bercanda di sekitar api unggun. Kami berjaga bersama hingga larut malam sambil menikmati kebersamaan. Pembelajaraan Bagi Saya Hari kedua ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Saya belajar tentang arti kekompakan, saling tolong-menolong, melatih mental, dan bagaimana menghadapi titik kelelahan bersama-sama. Semua itu ditutup dengan momen hangat di sekitar api unggun, ditemani secangkir kopi dan berbincang bincang .
Hari 3 – Jelajah , Evakuasi & Ujian Mental Hari ketiga merupakan pengalaman pertama saya mengikuti aktivitas yang sebelumnya belum pernah saya lakukan. Saat hari mulai terang, kami semua bangun dan bersiap memasak sarapan pagi bersama-sama. Kami menyiapkan nasi, lauk, dan bekal makan siang sesuai arahan dari kakak demisioner yang menyampaikan bahwa hari ini kami harus membawa bekal sendiri. Setelah makanan matang, kami makan bersama-sama. Sebagian makanan kami sisihkan untuk bekal siang hari. Usai makan, kami mulai membereskan perlengkapan tidur seperti carrier dan alat masak. Saya memberikan arahan kepada kelompok saya untuk membagi tugas: ada yang menata carrier, ada yang menurunkan dan merapikan tenda, serta ada yang membersihkan alat masak. Semua sampah kami kumpulkan dan area sekitar tenda kami bersihkan hingga tidak ada sampah yang tersisa. Setelah beres, kami beristirahat sejenak selama 10 menit, kemudian kembali dibariskan by kakak demisioner untuk menerima materi tentang cara menggunakan tali webbing yang benar. Semua teman-teman diberi arahan dan latihan agar semakin paham penggunaan tali tersebut. Selesai materi, kami diarahkan oleh senior untuk berbaris membentuk satu banjar ke belakang dan bersiap melakukan perjalanan susur hutan kembali. Dalam perjalanan, saya berada di posisi paling depan. Saat berjalan, saya menemukan beberapa barang di pinggiran pohon, seperti handlamp, slayer Cakra, baju lengan panjang, dan topi rimba. Semua barang tersebut langsung saya masukkan ke dalam carrier. Di pertengahan perjalanan, kami diminta istirahat sejenak sambil makan makanan ringan dan mengatur napas, karena di depan ada jalur tanjakan yang harus dilalui dengan bantuan tali webbing. Satu per satu teman naik secara bergantian hingga semuanya berhasil melewati rute tersebut. Perjalanan dilanjutkan selama kurang lebih 10 menit, lalu kami kembali diminta berbaris per kelompok karena akan menerima materi evakuasi korban jatuh dari jurang. Materi diawali dengan penjelasan mengenai cara melihat kondisi sekitar dan penggunaan webbing untuk evakuasi. Pelatih meminta empat relawan untuk mempraktikkan materi secara langsung, dan saya menjadi salah satu yang maju. Saya turun ke dasar jurang menggunakan peralatan lengkap: seat harness dari webbing, helm, sarung tangan, dan carabiner yang telah terpasang. Saya juga ditugaskan membawa golok untuk membuka jalur bagi teman-teman lain. Setelah jalur terbuka, saya melepas kaitan carabiner dan mulai menelusuri area sekitar, menemukan beberapa barang milik "korban" seperti kaus kaki dan sepatu, hingga akhirnya menemukan korban yang tergeletak di dekat aliran sungai. Saya segera kembali ke atas dan memberi tahu teman-teman bahwa korban telah ditemukan. Salah satu teman langsung menyusul saya ke bawah untuk memeriksa kondisi korban. Setelah diperiksa, korban dinyatakan meninggal dunia. Kami segera memberi tahu teman-teman di atas agar menurunkan tandu yang sebelumnya sudah disiapkan. Setelah semua turun, kami mengamankan korban ke tandu menggunakan tali dan carabiner, lalu mulai proses evakuasi. Evakuasi korban ke atas merupakan proses yang sangat menguras tenaga karena jalurnya licin dan berbatu. Kami mengatur strategi dengan dua orang di depan dan dua orang di belakang mengangkat tandu. Dengan panduan pelatih, kami berhasil membawa korban hingga ke atas dan melepaskan semua perlengkapan. Setelahnya, kami beristirahat dan makan siang. Lalu, semua alat kembali dibereskan dan carrier kami tata rapi di dekat pohon. Setelah itu, kami kembali dibariskan dan melanjutkan perjalanan. Kali ini jalur cukup teknikal karena menurun, licin, dan harus berpegangan pada tali webbing sambil membawa carrier. Setelah semua berhasil sampai di bawah, kami lanjut berjalan menuju area bebatuan. Di tengah perjalanan, kami diminta berhenti lagi karena akan turun menggunakan teknik repling di jalur berbatu. Saat menunggu giliran, hujan mulai turun. Saat giliran saya hendak turun, pelatih memberi arahan agar yang belum turun segera kembali to area istirahat karena kondisi hujan membahayakan untuk melanjutkan repling. Saya dan beberapa teman segera kembali ke atas dan membuat bivak darurat dari flysheet untuk berteduh. Tak lama, teman-teman lain yang sudah turun ikut kembali dan membuat bivak tambahan. Setelah hujan mulai reda, kami kembali dibariskan untuk melanjutkan perjalanan kembali ke lokasi kemah malam sebelumnya. Setibanya di lokasi, kami diminta membuat bivak kembali. Namun, hujan kembali turun deras. Saya langsung mengambil inisiatif untuk mengatur teman- teman: sebagian membuat bivak dan tempat menyimpan barang, sebagian membuat jalur aliran air, dan sebagian lagi mencoba menyalakan api unggun. Sayangnya, karena semua perlengkapan basah dan spiritus habis, api tidak menyala. Kondisi mulai darurat: banyak teman kedinginan dan pakaian basah kuyup. Saya menyuruh semua mengganti pakaian lengkap, termasuk pakaian dalam, agar tidak mengalami hipotermia. Beberapa teman mulai menggigil. Saya mulai panik, tetapi tetap berusaha menenangkan kelompok. Saya menyarankan agar mereka menempelkan salonpas di hidung untuk menghangatkan diri. Setelah semua berganti pakaian, kami berkumpul di dalam bivak berjumlah 9 orang. Dua teman kami lainnya sudah
terlebih dahulu istirahat di tenda senior karena kondisi kesehatannya. Di dalam bivak, kami saling menghangatkan dengan membuka sleeping bag dan tidur bersama agar tetap hangat. Malam pun tiba. Kami dibangunkan oleh senior dan diarahkan berpindah ke tenda mereka. Dalam kondisi jalan berlumpur, kami melangkah perlahan menuju lokasi tenda senior. Kami disambut hangat, diberi teh, makanan, dan menghangatkan diri di api unggun. Setelah itu, kami kembali diminta kembali to tenda awal. Di tengah perjalanan, salah satu teman perempuan saya tiba-tiba pingsan. Kami langsung mengangkatnya dan membawanya kembali to tenda senior untuk diberi pertolongan. Setelah kondisinya membaik, kami semua kembali ke lokasi kemah dan segera beristirahat karena kondisi fisik kami sudah sangat lelah. Saya mengambil sleeping bag dan langsung tidur di dekat api unggun yang mulai menyala. Pembelajaran Hari ketiga ini benar-benar mengajarkan saya banyak hal: mulai dari pentingnya kerja sama tim, pngalaman pertama evakuasi korban langsung, hingga bagaimana saya harus berpikir cepat agar teman-teman saya tidak terkena hipotermia dalam kondisi cuaca buruk dan kelelahan. Semua ini menjadi pengalaman berharga yang akan selalu saya ingat.
Hari 4 – Penutupan & Pulang Pagi hari, kami semua mulai bangun satu per satu. Seperti biasa, kami langsung membagi tugas: ada yang menyiapkan sarapan pagi, ada yang membereskan bivak, dan ada yang merapikan peralatan. Setelah semua kegiatan selesai, area sekitar dibersihkan dan sampah dikumpulkan ke dalam kantong plastik.
Selanjutnya, kami dibariskan by senior membentuk satu banjar ke belakang untuk melanjutkan perjalanan. Tujuan kami adalah menuju lokasi perkemahan senior, karena di sana akan dilaksanakan upacara penutupan kegiatan. Setibanya di lokasi, upacara penutupan dimulai dan berlangsung dengan khidmat. Di tengah pelaksanaan upacara, saya tidak dapat menahan air mata dan merasa sangat terharu. Banyak hal yang membuat saya tersentuh—terutama mengenai arti pentingnya kebersamaan, saling tolong-menolong, serta nilai-nilai kepemimpinan yang saya rasakan selama mengikuti kegiatan kemah selama empat hari ini. Saya juga sangat berterima kasih kepada seluruh kakak senior, pelatih, demisioner, dan teman- teman seperjuangan yang telah berproses bersama hingga tiba di titik akhir kegiatan ini. Setelah upacara selesai, kami melanjutkan dengan sesi foto bersama dengan seluruh peserta dan panitia, lalu dilanjutkan makan bersama. Setelah itu, kami bersiap melanjutkan perjalanan kembali menuju titik penitipan motor. Sekitar pukul 13.30 WIB, kami tiba di tempat penitipan dan beristirahat sejenak. Setelah itu, kami berpamitan satu sama lain dan bersiap untuk kembali menuju kampus.
Laporan Perjalanan Kemah Pendidikan dan Latihan Akhir Kelompok 1
Catatan perjalanan oleh Akfin Lukman